Sedulur Papat sering disebut dalam berbagai pembicaraan kebatinan sebagai empat saudara yang menyertai manusia. Namun maknanya tidak selalu harus segera diarahkan kepada gambaran tentang empat sosok gaib. Ada lapisan yang jauh lebih dekat dengan manusia, yaitu proses kelahiran itu sendiri.
Salah satu nukilan mantra yang pernah saya kenal dan jalani sejak masa awal belajar spiritual berbunyi:
Mar marti kakang kawah adi ari ari
Getih puser papat kalimo pancer
Kadangku kang kerawatan
Kadangku kang ora kerawatan
Kadangku kang metu soko margo ino
Kadangku kang metu bareng sedino
Mantra tersebut saya kenal sebagai sebuah nukilan dari perjalanan laku yang saya jalani lebih dari dua belas tahun. Ia bukan pusat ajaran perguruan tempat saya belajar, bukan pula sesuatu yang saya gunakan untuk mewakili keseluruhan ajaran perguruan tersebut. Saya hanya mengenalnya sebagai salah satu nukilan yang hadir dalam perjalanan belajar spiritual saya.
Saya juga tidak mengetahui apakah mantra yang sama digunakan dalam perguruan atau jalur tirakat lainnya. Bisa saja terdapat bentuk yang serupa, bahkan mungkin susunan yang sama, karena pengetahuan laku dapat diwariskan melalui berbagai jalan. Namun saya tidak mempunyai dasar untuk memastikan hal tersebut karena saya tidak belajar melalui perguruan lain.
Karena itu, pembahasan ini lebih tepat ditempatkan sebagai pembacaan dari pengalaman laku dan pemahaman yang saya jalani, bukan sebagai klaim mengenai satu-satunya bentuk atau pengertian Sedulur Papat dalam seluruh kebatinan Jawa.
Kelahiran dan Empat Saudara
Kalimat kakang kawah, adi ari-ari membawa kita langsung kepada kelahiran. Kawah hadir lebih dahulu dalam proses persalinan sehingga disebut kakang, sementara ari-ari menyusul sebagai bagian yang mempunyai hubungan erat dengan bayi selama berada di dalam kandungan.
Setelah itu disebut getih dan puser. Getih adalah darah, sedangkan puser mengingatkan pada tali pusat yang menghubungkan bayi dengan ari-ari selama masih berada dalam rahim.
Keempatnya mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan awal kehidupan manusia. Tidak ada yang berdiri jauh dari proses kelahiran. Semuanya berada dalam satu rangkaian yang dimulai sejak manusia masih berada di dalam kandungan hingga akhirnya keluar dan menjadi manusia yang hidup di dunia.
Di sinilah istilah sedulur memperoleh makna yang menarik. Sedulur tidak hanya dapat dibaca sebagai saudara dalam pengertian keluarga sehari-hari. Dalam konteks ini, ia menunjuk kepada sesuatu yang mempunyai hubungan dengan manusia sejak awal kehidupannya.
Ada yang datang lebih dahulu, ada yang menyertai, ada yang menjadi bagian dari kehidupan di dalam kandungan, lalu semuanya mengambil tempat masing-masing ketika kelahiran berlangsung.
Dengan demikian, pembicaraan tentang Sedulur Papat sebenarnya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: manusia tidak lahir sendirian.
Papat Kalima Pancer
Setelah menyebut kawah, ari-ari, getih, dan puser, mantra kemudian sampai pada ungkapan papat kalimo pancer.
Empat dan yang kelima adalah Pancer.
Pancer berarti pusat. Kedudukannya menjadi penting karena empat unsur tadi tidak dibiarkan berdiri sendiri. Ada satu titik yang menjadi pusat dari keseluruhan susunan.
Dalam perjalanan kebatinan, manusia tidak hanya dikenal melalui badan kasar. Ada daya hidup, rasa, sukma, tenaga batin, dan berbagai lapisan halus yang menjadi bagian dari pengalaman laku. Pemahaman mengenai hal-hal tersebut tentu dapat berbeda menurut jalur masing-masing, tetapi bagi orang yang menjalani kebatinan, kehidupan manusia memang memiliki sisi yang lebih luas daripada tubuh yang dapat dilihat.
Di dalam perjalanan tersebut terdapat pula nafsu.
Nafsu hadir dalam berbagai bentuk: keinginan, amarah, ketakutan, keberanian, hasrat, dorongan mempertahankan diri, keinginan memiliki, maupun dorongan untuk mengejar sesuatu. Ia merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Dalam laku, persoalannya bukan sekadar menghilangkan seluruh nafsu. Yang lebih penting adalah bagaimana berbagai daya tersebut ditempatkan sehingga manusia tidak kehilangan pusatnya, maka, sinilah Pancer menjadi penting.
Kadang yang Kerawatan
“Kadangku kang kerawatan.”
Kadangku kang kerawatan, saudaraku yang terawat.
Kata kerawatan dalam rangkaian ini berarti terawat, ada kadang/saudara yang mendapatkan perawatan.
Dalam kehidupan Jawa, hubungan dengan sesuatu yang berkaitan dengan kelahiran dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk penghormatan atau perlakuan tertentu. Ari-ari merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Dalam sebagian tradisi, ari-ari tidak dianggap selesai begitu saja setelah persalinan, tetapi mendapatkan perlakuan tertentu karena mempunyai hubungan dengan bayi yang dilahirkannya.
Dalam konteks mantra, kata kerawatan memberikan gambaran bahwa hubungan dengan kadang dapat terus berlanjut setelah kelahiran. Ada sesuatu yang dirawat dalam perjalanan hidup dan laku.
Namun bentuk perawatan itu sendiri tidak harus diseragamkan. Setiap jalur dapat mempunyai kebiasaan dan cara masing-masing.
Kadang yang Ora Kerawatan
“Kadangku kang ora kerawatan.”
Ada pula kadang yang ora kerawatan, tidak terawat.
Menariknya, kedua keadaan tersebut disebut secara berurutan. Ada yang terawat dan ada yang tidak terawat, tetapi keduanya tetap disebut sebagai kadang.
Hal ini memberikan gambaran bahwa hubungan dengan Sedulur Papat tidak bergantung pada tindakan manusia setelah kelahiran. Keberadaan sebagai kadang sudah ditempatkan dalam rangkaian sejak awal.
maka, yang kemudian berbeda adalah keadaan perawatannya, ada yang mendapatkan tempat dalam laku. Ada pula yang tidak mendapatkan.
Dari sini kata sedulur terasa semakin luas. Ia bukan sesuatu yang baru muncul ketika seseorang mulai belajar ilmu spiritual, tetapi sesuatu yang sejak awal sudah ditempatkan dalam hubungan dengan manusia.
Margo Ino dan Jalan Kelahiran
“Kadangku kang metu soko margo ino.”
Dalam pemahaman dari jalur laku yang saya kenal, margo ino dipahami sebagai jalan lahir, yaitu vagina, tempat kehidupan keluar dari rahim menuju dunia.
Jika ditempatkan dalam keseluruhan rangkaian, bagian ini terasa sangat erat dengan pembicaraan tentang kelahiran.
Bayi selama berada dalam kandungan hidup dalam hubungan dengan ari-ari, tali pusat, darah, dan lingkungan rahim. Kemudian datang suatu peralihan. Kehidupan yang sebelumnya berada di dalam rahim keluar melalui jalan lahir dan memasuki dunia.
Karena itu, margo ino dapat dipahami sebagai jalan keluarnya kehidupan.
Ia merupakan batas antara dua keadaan. Sebelum melewatinya, manusia masih berada dalam kehidupan kandungan. Setelah melewatinya, ia memasuki kehidupan sebagai manusia yang telah lahir.
Jika mantra dibaca sebagai satu kesatuan, penyebutan jalan lahir ini memperkuat hubungan Sedulur Papat dengan proses kelahiran manusia.
Metu Bareng Sedino
“Kadangku kang metu bareng sedino.”
Dalam pemahaman laku yang saya kenal, metu bareng sedino berkaitan dengan kadang yang keluar bersama pada hari kelahiran.
Bayi tidak hadir dalam keadaan terpisah dari seluruh rangkaian yang menopang kehidupannya di dalam rahim. Ada ari-ari atau plasenta, tali pusat, darah, cairan ketuban, dan berbagai unsur lain yang menyertai proses kelahiran.
Ari-ari menjadi bagian yang paling mudah dilihat hubungannya. Ia berada bersama bayi selama kehidupan di dalam kandungan, kemudian keluar dalam rangkaian persalinan. Karena itulah dalam pemaknaan Sedulur Papat, ia dapat ditempatkan sebagai sesuatu yang menyertai manusia sejak awal.
Metu bareng sedino memberi gambaran tentang penyertaan tersebut. Manusia memasuki dunia bersama suatu rangkaian kelahiran yang sudah berlangsung sejak sebelumnya.
Apa yang secara lahiriah merupakan bagian dari proses persalinan kemudian memperoleh lapisan makna dalam perjalanan kebatinan.
Dari Raga Menuju Lapisan Halus
Dari kelahiran, pembicaraan mengenai Sedulur Papat kemudian dapat bergerak menuju wilayah yang lebih halus.
Manusia memiliki tubuh kasar, tetapi pengalaman kebatinan mengenal pula daya hidup, rasa, sukma, tenaga batin, dan lapisan halus yang menyertai raga. Semua itu tidak selalu dapat dilihat sebagaimana tubuh jasmani, tetapi menjadi bagian dari pengalaman orang yang menjalani laku.
Nafsu pun berada di dalam perjalanan tersebut. Manusia membawa berbagai dorongan yang membuatnya bergerak menjalani kehidupan. Ada keinginan, rasa takut, amarah, keberanian, hasrat, kecenderungan mempertahankan diri, dan berbagai dorongan lainnya.
Laku kemudian menjadi jalan untuk mengenali dan menempatkan semua daya tersebut.
Di tengah berbagai lapisan itu, Pancer menjadi penting karena ia menunjukkan adanya pusat.
Pancer sebagai Pusat
Semakin direnungkan, semakin terasa bahwa Pancer merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Sedulur Papat.
Empat saudara disebut, kemudian ada pusat.
Manusia dapat mengalami berbagai perubahan sepanjang hidup. Tubuh berubah, nafsu bergerak, rasa naik turun, pengalaman batin datang silih berganti. Namun di tengah semua itu ada tempat untuk kembali.
Pancer adalah titik tengah tersebut.
Karena itu, Sedulur Papat Kalima Pancer bagi saya bukan sekadar pembicaraan tentang empat saudara yang menyertai manusia. Ia membuka gambaran mengenai manusia sejak kelahirannya, hubungan dengan tubuh dan unsur-unsur yang menyertainya, kemudian bergerak menuju lapisan kehidupan yang lebih halus.
Semua akhirnya kembali kepada pusat.
Sedulur Papat sebagai Warisan Laku
Mantra yang menjadi pijakan tulisan ini hanyalah satu nukilan yang saya kenal dalam perjalanan spiritual. Saya tidak bermaksud menjadikannya ukuran bagi seluruh perguruan, seluruh jalur tirakat, ataupun seluruh pemahaman mengenai Sedulur Papat.
Bisa saja terdapat bentuk mantra yang sama di tempat lain. Bisa pula ada susunan yang berbeda tetapi memiliki hubungan makna. Saya tidak mengetahui sejauh mana kesamaan tersebut karena perjalanan belajar saya memang berlangsung melalui satu jalur yang saya tekuni selama lebih dari dua belas tahun.
Maka yang dapat saya sampaikan adalah apa yang saya kenal dan jalani, dari sana Sedulur Papat Kalima Pancer terasa sebagai sebuah gambaran yang berangkat dari sesuatu yang sangat dekat: kelahiran manusia.
Ada kawah yang datang lebih dahulu. Ada ari-ari yang menyertai. Ada getih dan puser yang berkaitan dengan kehidupan dalam kandungan. Ada margo ino sebagai jalan keluarnya kehidupan. Ada kadang yang metu bareng sedino. Ada yang kerawatan dan ada yang ora kerawatan, lalu di tengah semuanya terdapat Pancer.
Papat kalimo Pancer.
Empat dengan satu pusat.
Mungkin kedalaman ajaran seperti ini memang tidak selalu berada pada banyaknya penjelasan. Sebagian pengetahuan tumbuh melalui laku, sebagian melalui pengalaman, dan sebagian baru terasa maknanya setelah seseorang menjalaninya dalam waktu yang panjang.
Sedulur Papat Kalima Pancer menjadi salah satu pintu untuk melihat manusia dari sisi yang lebih tua: bukan hanya sebagai tubuh yang lahir dan tumbuh, tetapi sebagai kehidupan yang sejak awal telah berada dalam sebuah rangkaian penyertaan.
Seluruh rangkaian itu pada akhirnya bermuara pada satu titik, tempat manusia kembali menempatkan dirinya: Pancer.


