ARTCANUM

Arsip Mistis Nusantara • Spiritual • Simbol • Kesadaran

Malam Ketujuh Tirakat: Wanita yang Bertanya Siapa Aku?

•

 

Seorang pemuda sedang bermeditasi di ruangan tirakat yang gelap dengan dinding beton dan gorden tertutup.

Sekitar tahun 2004, aku mulai belajar di sebuah perguruan kebatinan sekaligus pencak silat. Banyak orang datang ke tempat itu untuk melatih tenaga dalam, memperdalam laku spiritual, atau sekadar mencari pengalaman yang tidak mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Alasanku bergabung sedikit berbeda.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa mengalami berbagai hal yang menurut kebanyakan orang terdengar aneh. Ada kalanya aku melihat sosok yang tidak dilihat orang lain. Kadang aku merasakan kehadiran sesuatu yang tidak tampak. Dalam beberapa kesempatan, aku bahkan mengalami kejadian-kejadian yang berkaitan dengan tempat angker, pusaka, atau fenomena yang sulit dijelaskan secara logika.

Masalahnya, semua itu datang tanpa kendali.

Aku tidak pernah benar-benar tahu apakah yang kulihat adalah sesuatu yang nyata, atau sekadar campuran antara pengalaman, ketakutan, imajinasi, dan cerita yang pernah kudengar. Karena itulah aku mulai belajar secara lebih terarah. Aku ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi dan belajar membedakan antara sesuatu yang benar-benar terlihat dengan sesuatu yang hanya muncul dari dalam pikiranku sendiri.

Salah satu latihan yang diberikan kepadaku adalah tirakat selama empat belas hari.

Ruangan Meditasi di Lantai Dua

Setiap petang menjelang malam, aku harus memasuki sebuah ruangan kecil di lantai dua padepokan. Ruangan itu sederhana. Dindingnya berupa beton yang sudah kusam. Jendelanya selalu ditutup gorden tebal. Tidak ada penerangan selain bara merah dari sebatang dupa yang perlahan habis terbakar selama meditasi berlangsung.

Selain bermeditasi, aku juga diminta mendoakan leluhur serta siapa pun yang telah meninggal agar memperoleh jalan terang dan pengampunan.

Hari pertama berlalu tanpa kejadian apa pun.

Hari kedua juga sama.

Hari ketiga, keempat, dan kelima tidak berbeda. Tidak ada penampakan. Tidak ada suara. Tidak ada sensasi yang terasa istimewa.

Aku hanya duduk bersila dalam gelap sambil membiarkan waktu berjalan.

Memasuki hari keenam, sesuatu mulai berubah.

Saat meditasi berlangsung, aku merasakan sensasi seperti angin yang berputar jauh di luar ruangan. Sesekali muncul kilatan cahaya yang terasa datang dari arah depan padepokan. Tepat di seberang jalan depan bangunan itu memang terdapat sebuah pemakaman umum desa yang sudah ada sejak lama.

Meski demikian, aku tidak merasa takut.

Aku hanya membiarkan semua sensasi tersebut lewat begitu saja.

Semakin dalam aku tenggelam dalam meditasi, semakin jauh suara dan cahaya itu menghilang. Ketika akhirnya aku membuka mata, lebih dari setengah jam telah berlalu tanpa terasa.

Aku mengira pengalaman itulah yang menjadi tujuan latihan tersebut.

Ternyata aku salah.

Seorang pemuda bermeditasi di dalam ruangan tirakat yang gelap dengan sebatang dupa menyala di depannya.

Malam Ketujuh

Keesokan harinya, tepat pada hari ketujuh tirakat, aku kembali menaiki tangga menuju ruangan meditasi.

Pukul enam sore pada tempat yang sama, dengan prosedur yang sama. Kubaca doa perlindungan, menyalakan sebatang dupa, lalu duduk bersila di lantai beton tanpa alas.

Pada awalnya tidak ada yang berbeda, namun beberapa saat kemudian, dalam keadaan mata terpejam, aku mulai melihat cahaya.

Awalnya hanya samar.

Lalu semakin jelas.

Sesaat kemudian aku dapat melihat dinding ruangan.

Lalu halaman latihan pencak silat yang berada di bawah padepokan.

Lalu jalan aspal yang membentang di depan bangunan.

Dan akhirnya, pemakaman umum yang berada di seberang jalan.

Semua itu terlihat sangat jelas.

Padahal mataku masih tertutup.

Rasa heran segera berubah menjadi kegelisahan ketika pandanganku tertuju pada sebuah makam yang tampak masih baru. Belum ada nisan batu. Hanya gundukan tanah dan bunga-bunga kering yang mulai layu.

Entah mengapa, perhatianku tidak bisa berpindah dari tempat itu.

Wanita yang Keluar dari Makam

Kemudian tanah pada makam tersebut mulai bergerak.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Aku melihat sesuatu muncul dari dalamnya.

Awalnya hanya bagian kepala.

Lalu pundak.

Kemudian kedua tangan yang mendekap tubuhnya sendiri dalam posisi yang terasa tidak nyaman.

Sosok itu akhirnya berdiri sepenuhnya.

Seorang wanita.

Ia mengenakan kain panjang berwarna cokelat kusam, seperti kain kafan yang pernah terendam lumpur. Rambutnya panjang dan berantakan. Kepalanya sedikit menunduk.

Yang paling membuatku tidak nyaman bukanlah penampilannya.

Melainkan cara ia bergerak.

Salah satu kakinya seperti tidak dapat mengikuti langkah yang lain sehingga harus diseret setiap kali berjalan.

Wanita itu tidak melihat ke arahku.

Ia tidak tampak marah.

Ia juga tidak tampak mencari seseorang.

Ia hanya berjalan mengitari area pemakaman seperti orang yang kebingungan.

Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak lagi mengingat apa yang sedang dicarinya.

Lalu tanpa peringatan, arah langkahnya berubah.

Ia berjalan menuju padepokan, dalam rasaku... seolah aku paham, kemana ia akan berjalan.

Seorang wanita berambut panjang berdiri diam di samping makam yang masih baru di sebuah pemakaman desa saat senja.

Langkah Kaki di Dalam Ruangan

Saat itulah aku mulai berusaha mengakhiri meditasi namun aku tidak bisa, kesadaranku terasa terkunci.

Aku hanya mampu menyaksikan sosok tersebut melewati pagar, menyeberangi halaman, lalu bergerak menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.

Menuju tempatku berada, aku melihatnya berhenti tepat di depan pintu ruangan meditasi.

Lalu semuanya menjadi sangat sunyi, lenyap begitu saja dari depan pintu.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam ruangan.

Pelan.

Bergema.

Berulang.

duk... sreeekkk...

duk... sreeekkk...

duk... sreeekkk...

Suara langkah kaki yang diseret mengelilingi ruangan.

Tidak tergesa-gesa.

Tidak berat.

Justru terdengar seperti langkah seseorang dengan bobot tubuh yang ringan.

Setelah beberapa putaran, muncul suara lain.

Suara napas panjang.

hehhhhhh...

hehhhhhh...

hehhhhhh...

Langkah dan napas itu terus berulang, mengitari ruangan, mengitari tempatku duduk.

Sementara itu, aku tidak mampu melakukan apa pun selain mendengarkan.

Pertanyaan yang Tidak Pernah Kulupakan

Kemudian suara langkah itu berhenti tepat di samping kiriku.

Aku merasakan ada seseorang duduk, samar samar terlihat siluat bersimpuh.

Beberapa saat tidak terjadi apa-apa, lalu perlahan sosok itu tiba tiba berada sangat dekat.

Rambut panjangnya hampir menyentuh wajahku, bau anyir yang tajam tiba-tiba memenuhi udara.

Dalam satu kilasan singkat, aku melihat wajah yang sudah rusak oleh kematian. Namun yang paling membekas bukanlah kerusakan itu.

Melainkan ekspresinya.

Ia tidak tampak marah.

Ia tidak tampak mengancam.

Ia tampak bingung.

Sangat bingung.

Lalu aku mendengar suara yang sampai hari ini masih kuingat.

"Siapa aku..."

Hening.

Kemudian terdengar lagi.

"Siapa aku..."

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman, tidak pula seperti teriakan, namun lebih menyerupai pertanyaan yang sungguh-sungguh.

Pertanyaan yang ditujukan kepada siapa saja yang mungkin dapat menjawabnya.

Seorang pemuda sedang bermeditasi di ruangan tirakat yang remang-remang dengan satu batang dupa menyala, sementara sosok wanita berambut panjang duduk bersimpuh di sampingnya dalam suasana horor spiritual khas Jawa.

Ketakutan dan Keheningan

Saat itulah rasa takut mengambil alih.

Aku membuka mata.

Dan sesaat aku masih dapat merasakan kehadirannya.

Tanpa berpikir panjang, aku melompat menjauh, membuka pintu, lalu berlari menuruni tangga menuju ruang tunggu padepokan.

Di sana masih ada beberapa orang yang sedang bercengkrama seperti biasa, aku tidak menceritakan apa pun kepada mereka.

Aku hanya duduk diam.

Menyalakan rokok dan berusaha meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar sudah keluar dari ruangan itu. Pengalaman tersebut membuatku menghentikan latihan meditasi selama hampir satu bulan.

Aku tidak ingin kembali ke ruangan itu.

Aku tidak ingin bertemu sosok tersebut lagi.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.

Sampai hari ini, aku tidak pernah mengetahui siapa sosok wanita tersebut. Aku juga tidak pernah berusaha memastikan apakah memang ada makam baru di lokasi yang kulihat saat meditasi berlangsung.

Yang tersisa hanyalah ingatan tentang pengalaman itu sendiri.

Aku melihat seorang wanita keluar dari sebuah makam.

Aku melihatnya berjalan menuju padepokan.

Aku mendengar langkahnya mengitari ruangan meditasi.

Dan aku mendengar sebuah pertanyaan yang diucapkan berulang kali.

"Siapa aku..."

Dahulu aku menganggap pengalaman itu sebagai sesuatu yang murni menakutkan. Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, cara pandangku perlahan berubah.

Aku tidak lagi mengingat sosok tersebut sebagai sesuatu yang datang untuk menerorku, sebaliknya, yang paling membekas justru kesan kebingungan yang ia bawa.

Tentu saja, ini hanyalah pemahamanku hari ini, bukan fakta yang dapat kubuktikan, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pun tidak tahu siapa sosok yang kutemui, juga tidak tahu apakah ada penjelasan lain yang belum pernah kupahami. Namun ketika mengingat kembali malam ketujuh tirakat tersebut, kesan yang tersisa bukan lagi rasa takut.

Yang tersisa justru sebuah pertanyaan, pertanyaan sederhana yang terdengar jauh lebih mengganggu daripada kemunculan sosok itu sendiri.

"Siapa aku..."

Dan sampai hari ini, aku masih belum memiliki jawabannya.