Tirakat bukan kegiatan transaksional antara manusia dengan sesuatu yang sedang dituju.
Tirakat, dalam berbagai bentuknya, memiliki banyak pemahaman yang dapat mencakup hubungan manusia dengan alam, dengan dirinya sendiri, dengan manusia lain, sampai dengan sesuatu yang diyakini bersifat ilahiah.
Dalam beberapa artikel ArtCanum sebelumnya, tirakat telah dibicarakan melalui bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika membahas Panca Pama, misalnya, berlaku adil, jujur, serta menjaga tindakan kepada diri sendiri maupun manusia lain juga dapat menjadi bentuk tirakat yang nyata.
Namun kali ini ArtCanum melihat tirakat dari sisi yang sedikit berbeda, yaitu laku yang berkaitan dengan kegiatan spiritual, terutama ketika seseorang sedang berada dalam kebuntuan hidup, mengalami pergulatan batin, atau mencari jalan keluar melalui sesuatu yang diyakininya.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari bertapa, puasa khusus, membaca doa pada waktu tertentu, mengulang doa dengan hitungan tertentu, meditasi, sampai menjalani laku selama beberapa hari atau minggu.
Di balik semua itu biasanya ada harapan, ada sesuatu yang ingin dicapai, persoalan yang ingin diselesaikan, atau keadaan yang ingin segera berubah.
Ketika manusia mencari jalan keluar
Bayangkan seseorang yang usahanya mulai kolaps, pendapatan semakin menurun, persoalan datang dari berbagai arah, sementara kebutuhan hidup terus berjalan tanpa menunggu keadaan menjadi lebih baik.
Ia sudah mencoba berbagai cara yang masuk akal dan manusiawi, mulai dari menata kembali tempat usaha, memperbaiki pembukuan, mengurangi pengeluaran, sampai mengubah cara menjalankan usaha, tetapi hasilnya masih belum menentu.
Dalam keadaan seperti itu, mulai terdengar berbagai bisikan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk jalan cepat yang mengarah kepada kegiatan gelap seperti pesugihan.
Namun ada pula yang menunjukkan jalan berbeda, yaitu meminta pertolongan kepada sesuatu yang diyakini secara ilahiah melalui doa, meditasi, puasa, atau bentuk tirakat tertentu.
Akhirnya ia memilih menjalani tirakat, mungkin dengan berdoa setiap tengah malam menggunakan hitungan tertentu, atau melakukan meditasi sebelum memanjatkan permohonan kepada sesuatu yang diyakininya dapat membantu melewati keadaan tersebut.
Kepada siapa ia meminta dan bagaimana keyakinannya bekerja dalam dirinya merupakan wilayah pribadi yang tidak perlu diperdebatkan di sini. Yang ingin kita lihat adalah tirakat dan hubungan manusia dengan hasil yang diharapkannya.
Hal semacam ini cukup umum dilakukan, bahkan oleh orang yang tidak menjalani disiplin spiritual secara khusus. Doa, puasa, meditasi, atau laku sederhana dapat dilakukan oleh siapa saja, sementara bentuk yang lebih berat seperti pati geni atau tapa ngebleng memiliki tuntutan yang berbeda.
Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana praktik itu dilakukan, melainkan apa yang terjadi ketika hasilnya tidak sesuai dengan tujuan awal.
Seseorang dapat berdoa setiap malam selama berhari-hari atau berminggu-minggu, mengulang permohonan yang sama dengan tekun, tetapi keadaan tetap belum berubah.
Lalu muncul pertanyaan, apa yang salah, di mana letak kesalahannya, dan apa yang sebenarnya perlu diperbaiki?
Ketika tirakat berubah menjadi transaksi
Di sinilah manusia kadang tanpa sadar mulai memperlakukan tirakat seperti transaksi.
“Aku sudah melakukan ini, maka seharusnya aku mendapatkan itu.”
“Aku sudah berpuasa sekian hari, mengapa keinginanku belum terkabul?”
“Aku sudah membaca doa sebanyak ini, mengapa keadaan belum berubah?”
Padahal tirakat tidak sesederhana itu.
Sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari pun tidak selalu memberikan hasil seperti yang kita bayangkan. Makanan yang dibeli mahal belum tentu terasa seenak harapan kita, begitu pula perjalanan yang sudah direncanakan belum tentu berjalan sesuai keinginan.
Maka tirakat tidak semestinya diperlakukan sebagai pembayaran kepada sesuatu yang kita puja agar kemudian menerima balasan sesuai permintaan.
Puasa, doa, meditasi, samadi, tapa, dan berbagai bentuk laku lainnya merupakan bagian teknis, tetapi tirakat tidak berhenti pada apa yang dilakukan tubuh.
Ketika bertirakat, hati juga harus tirakat, pikiran juga harus tirakat, dan tubuh juga harus tirakat.
Tubuh belajar menahan dorongan yang biasanya mudah dituruti, pikiran belajar tidak selalu mengikuti keinginan, sementara nafsu mulai diperhatikan agar manusia tidak terus terseret oleh sesuatu yang sedang ingin dimilikinya.
Keinginan dan angan-angan bukan berarti harus dianggap buruk, tetapi manusia sering kehilangan kesadaran ketika terlalu melekat pada sesuatu yang diinginkannya.
Maka tirakat bukan sekadar mengulang doa atau kegiatan dalam hitungan waktu tertentu, melainkan juga kesadaran mengenai kepada siapa ia memohon, apa yang diminta, dan mengapa ia meminta.
Seseorang mungkin meminta mobil baru, tetapi dalam perjalanan hidupnya yang justru dibutuhkan adalah kendaraan sederhana untuk mempertahankan usaha.
Sebaliknya, seseorang yang hanya meminta sepeda kayuh bisa saja memperoleh rezeki jauh lebih besar dari apa yang pernah dibayangkannya.
Apa yang diminta manusia dan apa yang kemudian terjadi tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Karena itu, tirakat tidak dapat dimasukkan ke dalam rumus, “ketika aku sudah melakukan ini, maka sesuatu harus memberikan itu.”
Lalu untuk apa tirakat?
Pertanyaan skeptis kemudian muncul, jika tirakat tidak selalu memberikan apa yang diniatkan, lalu untuk apa seseorang menjalaninya?
Bukankah hasilnya tetap tidak menentu, dan mengapa tidak memilih jalan yang lebih cepat meskipun jalan tersebut berdekatan dengan sesuatu yang buruk?
Setiap manusia memiliki jalan hidupnya sendiri, dan setiap perbuatan memiliki konsekuensinya masing-masing. Tidak semua akibat datang ketika sebuah perbuatan dilakukan, karena ada sesuatu yang baru terlihat setelah waktu berjalan cukup panjang.
Kembali kepada tirakat, mungkin salah satu nilainya justru berada pada kematangan dan penyadaran diri ketika seseorang sedang menghadapi keadaan yang sulit.
Saat masalah datang terlalu banyak, pikiran menjadi kacau dan pandangan menyempit. Kesempatan yang sebenarnya masih ada dapat terlihat seperti tidak pernah ada, bukan karena kesempatan itu hilang, tetapi karena pikiran terlalu penuh oleh tekanan.
Dalam keadaan seperti itu, tirakat dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, kemudian melihat kembali persoalan dengan pandangan yang lebih jernih.
Bukan berarti tirakat menggantikan usaha yang harus dilakukan dalam kehidupan, tetapi laku tersebut dapat menjadi bagian dari cara seseorang menata kembali dirinya ketika keadaan sedang berantakan.
Ember yang penuh lubang
Ada sebuah analogi yang pernah ArtCanum dengar jauh sebelumnya dan rasanya cukup tepat untuk menggambarkan keadaan tersebut.
Bayangkan tumpukan sampah terbakar tidak jauh dari rumahmu, api semakin membesar, sementara di tanganmu hanya ada sebuah ember tua yang kotor dan penuh lubang.
Sungai berada sekitar dua meter dari rumahmu, sehingga sumber air sebenarnya ada, hanya saja alat yang kamu miliki tidak sempurna.
Apa yang akan kamu lakukan, membiarkan api membesar, mengambil air dengan tangan sambil panik, atau menggunakan ember bocor itu untuk mengambil air berkali-kali?
Memang air akan banyak terbuang karena ember tersebut bocor, tetapi tetap ada air yang tertampung dan dapat digunakan untuk menyiram api.
Kamu bolak-balik mengambil air dan menyiramkannya ke tumpukan yang terbakar. Mungkin tidak langsung padam, tetapi sedikit demi sedikit api dapat dikendalikan.
Tanpa disadari, selama digunakan berulang kali, ember yang sebelumnya kotor ikut menjadi lebih bersih.
Warna aslinya mulai terlihat, lubang-lubangnya menjadi jelas, dan kamu akhirnya mengetahui bagian mana yang masih kuat, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang sudah tidak layak.
Begitu pula tirakat.
Mungkin tirakat tidak serta-merta menyelesaikan masalah yang sedang membelenggu kehidupan seseorang, dan jalan keluar bisa saja datang melalui sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.
Namun selama menjalani laku, seseorang dapat menemukan ketenangan yang sebelumnya sulit ditemukan, melihat kelemahannya sendiri, mengenali kelebihannya, dan mengetahui bagian mana yang perlu dipertahankan atau diperbaiki.
Masalah di luar dirinya mungkin belum langsung selesai, tetapi manusia yang menghadapinya sudah tidak lagi berdiri dengan keadaan batin yang sama.
Mungkin itulah salah satu makna tirakat yang sering terlupakan ketika manusia terlalu sibuk menghitung berapa lama ia berdoa dan apa yang harus diterimanya setelah menjalani laku.
Tirakat bukan jual beli antara manusia dengan sesuatu yang diyakininya, bukan pula kepastian bahwa sekian doa akan selalu dibalas dengan sekian hasil.
Namun berhasilnya tirakat adalah kemungkinan lain, dan ketika itu terjadi, seseorang bisa mendapatkan dua hal sekaligus, apa yang diniatkannya menemukan jalan, sementara dirinya sendiri ditempa menjadi lebih sadar melalui laku yang dijalani.
Tirakat bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang siapa diri kita setelah menjalaninya.
Terkadang yang perlu diselamatkan bukan hanya rumah dari api yang membesar, tetapi juga ember yang digunakan untuk menyelamatkannya.

