Ada sebuah keadaan yang beberapa kali muncul dalam perjalanan astral yang dilakukan ArtCanum, sebuah ruang yang rasanya tidak tepat kalau langsung disebut sebagai alam gaib.
Akan tetapi juga terlalu berbeda untuk disebut sebagai bagian dari dunia manusia, seolah-olah ada wilayah di tengah-tengah keduanya, tempat berbagai bentuk, suasana, dan kejadian seperti menunggu sebelum benar-benar menyeberang ke salah satu sisi.
ArtCanum mengenalnya sebagai Alam Wang Wung, atau bisa juga disebut sebagai Alam Antara, sementara dalam istilah yang lebih dikenal sekarang, keadaan seperti ini memiliki kemiripan dengan konsep alam liminal, sebuah ruang peralihan yang berada di antara dua keadaan.
Istilah wang wung sendiri terasa cukup dekat dengan suasana yang dialami ketika berada di sana, seperti awang-awang, menggantung, melamun, atau berada dalam batas antara sadar dan tidak sepenuhnya sadar. Bukan tidur, tetapi juga bukan keadaan terjaga seperti biasanya, bukan dunia fisik sepenuhnya, tetapi juga belum terasa seperti gambaran tentang alam gaib yang selama ini dikenal melalui berbagai cerita.
Posisinya seperti berada di tengah, dan di situlah letak menariknya.
Alam Antara, sepengalaman ArtCanum, terasa sebagai sebuah ruang yang beririsan langsung dengan alam manusia dan alam gaib, sebuah wilayah perbatasan tempat keduanya seolah dapat saling meninggalkan jejak.
Alam yang Tidak Sepenuhnya Gaib
Ketika pertama kali membayangkan alam gaib, kebanyakan dari kita mungkin langsung membuat batas yang sederhana, ada dunia manusia dan ada dunia lain di luar manusia, ada sesuatu yang nyata dan ada sesuatu yang tidak terlihat.
Sejak kecil kita memang terbiasa mengenal dunia dengan cara seperti itu, hitam dan putih, ada dan tidak ada, hidup dan mati, nyata dan gaib, pengalaman perjalanan astral justru memberikan gambaran yang sedikit berbeda.
Ada ruang yang tidak sepenuhnya mengikuti dunia fisik, tetapi juga tidak terasa seperti tempat yang sepenuhnya asing. Jalan masih berbentuk jalan, rumah tetap terlihat seperti rumah, pepohonan masih memiliki bentuk pepohonan.
Bahkan terkadang suasana sebuah tempat terasa begitu familiar, hanya saja semuanya seperti kehilangan kepastian yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Cahaya juga terasa berbeda.
Alam Wang Wung yang beberapa kali dirasakan ArtCanum cenderung berada dalam keadaan temaram, tetapi tidak gelap. Ruang dapat terlihat cukup jelas tanpa adanya cahaya matahari yang benar-benar menjadi sumber penerangan. Kadang suasananya terasa seperti malam, tetapi tidak terlihat bulan, sementara cahaya tetap ada seolah-olah berasal dari ruang itu sendiri.
Tidak terasa adanya angin yang benar-benar seperti angin di dunia manusia, tetapi ruang tetap memiliki suasana. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada sumber cahaya yang jelas, tetapi segala sesuatu masih bisa terlihat. Seolah-olah setiap benda membawa sedikit cahayanya sendiri.
Kesan seperti inilah yang beberapa kali muncul dalam perjalanan astral ArtCanum, dan kemiripan suasananya justru menjadi salah satu alasan mengapa konsep Alam Antara mulai menarik untuk diamati lebih jauh.
Ruang yang Berada di Antara Dua Dunia
ArtCanum sendiri tidak melihat Alam Wang Wung sebagai dunia manusia kedua, tetapi juga tidak buru-buru memasukkannya sebagai alam gaib sepenuhnya.
Ruang ini lebih tepat dipahami sebagai wilayah peralihan, sebuah jembatan yang memungkinkan sesuatu dari satu sisi bersinggungan dengan sisi lainnya.
Di dalam kerangka ini, berbagai hal yang muncul dari kehidupan manusia seperti emosi, ketakutan, harapan, doa, kemarahan, ego, ingatan, simbol, dan kegiatan spiritual lainnya mungkin meninggalkan semacam jejak di Alam Antara.
Jejak tersebut tidak selalu langsung menjadi bentuk yang dapat dilihat.
- Kadang hanya terasa sebagai suasana.
- Kadang seperti bayangan.
- Kadang muncul sebagai simbol.
Pada kondisi tertentu, sesuatu yang semula hanya berupa kesan dapat terlihat jauh lebih nyata ketika seseorang berada dalam perjalanan astral atau keadaan kesadaran tertentu.
Di sinilah ArtCanum melihat kemungkinan bahwa Alam Wang Wung menjadi ruang bagi berbagai manifestasi spiritual untuk memperoleh bentuk awalnya.
Bukan berarti setiap pikiran manusia otomatis menciptakan makhluk gaib, karena konsepnya tidak sesederhana itu. Lebih tepat kalau dibayangkan seperti sebuah ruang yang dapat menyimpan guratan dari kehidupan manusia, kemudian sesuatu dari sisi lain mungkin mengambil, membaca, atau menggunakan guratan tersebut ketika bersinggungan dengan dunia manusia.
Guratan yang Tidak Benar-Benar Hilang
Ada sebuah perumpamaan yang menurutku cukup menggambarkan konsep Alam Antara.
Bayangkan seseorang menggambar sesuatu menggunakan pensil, kemudian gambar itu dihapus sampai terlihat seperti sudah tidak ada. Secara kasat mata, gambar tersebut memang hilang, tetapi kalau diperhatikan dari dekat, biasanya masih ada guratan yang tertinggal, bekas tekanan pensil, bayangan tipis, atau garis samar yang baru terlihat ketika cahaya mengenai kertas dari arah tertentu.
Gambarnya sudah dihapus, tetapi bekasnya belum benar-benar hilang, namun dalam kerangka ArtCanum, Alam Antara terasa seperti ruang tempat guratan semacam itu masih tersimpan.
Ketakutan manusia dapat meninggalkan guratan.
Doa dan harapan mungkin meninggalkan guratan.
Kemarahan, ego, pengalaman spiritual, simbol, ingatan, bahkan ketakutan yang diwariskan melalui cerita dari generasi ke generasi bisa meninggalkan bentuk samar di wilayah antara tersebut.
Bentuknya belum tentu sempurna dan belum tentu langsung terlihat, namun keberadaannya seperti bekas gambar yang masih tertinggal setelah kertas dihapus.
Pada titik tertentu, sesuatu dari sisi lain mungkin dapat mengambil bentuk dari guratan tersebut, kemudian menjadikannya sebagai cara untuk berinteraksi dengan dunia manusia, mencari eksistensi, memunculkan ketakutan, atau sekadar melakukan kontak.
Konsep inilah yang membuat Alam Wang Wung berbeda dari sekadar alam imajinasi dalam pemahaman ArtCanum.
Mengapa Bentuk Hantu Bisa Berubah Mengikuti Zaman?
Salah satu contoh yang menarik adalah perubahan gambaran mengenai kuntilanak.
Dalam gambaran yang lebih lama, sosok kuntilanak banyak dikenal dengan pakaian putih dan rambut panjang. Gambaran tersebut kemudian berkembang seiring perubahan budaya, film, televisi, cerita masyarakat, internet, dan berbagai bentuk informasi lain yang terus memengaruhi cara manusia membayangkan sosok tersebut.
Kemudian muncul berbagai variasi, termasuk kuntilanak merah, hitam, dan bentuk-bentuk lain yang semakin beragam.
ArtCanum tidak menjadikan perubahan gambaran tersebut sebagai bukti bahwa sebuah entitas benar-benar berganti warna atau bentuk secara fisik. Perubahan itu lebih menarik jika dibaca sebagai contoh bagaimana manusia terus membuat guratan baru di wilayah antara.
- Ketakutan berubah.
- Informasi berubah.
- Cerita berubah.
- Simbol berubah.
Bentuk yang tersedia dalam kesadaran kolektif manusia pun ikut berubah.
Jika memang Alam Antara merupakan ruang yang dapat menjadi tempat terbentuknya manifestasi, bukan sesuatu yang mustahil jika bentuk yang muncul dalam pengalaman manusia juga mengikuti perubahan zaman.
Karena itu, hantu urban menjadi menarik untuk diamati, sebab sosok-sosok yang muncul dalam cerita modern tidak selalu lagi mengambil bentuk dari cerita lama. Gedung kosong, rumah sakit, apartemen, lift, jalan raya, bahkan tempat-tempat modern lainnya mulai menjadi latar bagi berbagai pengalaman supranatural.
Mungkin manusia hanya sedang menceritakan hantu dengan bahasa zamannya, atau mungkin pula ada sesuatu yang memang menggunakan bentuk zaman tersebut untuk dapat dikenali manusia.
Pertanyaan itu masih terbuka, entah sampai kapan.
Mengapa Pengalaman Orang Bisa Terasa Mirip?
Hal lain yang membuat konsep Alam Wang Wung semakin menarik adalah kemiripan suasana yang muncul dalam pengalaman beberapa orang.
ArtCanum sendiri beberapa kali mengalami perjalanan astral dengan kesan yang serupa, meskipun pengalaman setiap perjalanan tidak selalu sama. Ada pengalaman yang memperlihatkan tempat berbeda, ada yang menghadirkan sosok berbeda, tetapi suasana ruangnya memiliki beberapa pola yang terasa mirip.
- Temaram, tetapi tetap terang.
- Tidak menyilaukan.
- Tidak ada matahari sebagai sumber cahaya.
- Tidak terlihat rembulan meskipun suasana seperti malam.
- Tidak terasa angin yang benar-benar nyata.
- Ruang seperti memiliki cahaya sendiri.
Kemiripan ini menarik karena dalam beberapa pengalaman, orang yang melakukan perjalanan astral belum tentu pernah saling bertukar cerita atau membaca kisah mengenai alam liminal sebelumnya.
Pertanyaannya kemudian menjadi cukup sederhana, tetapi jawabannya tidak mudah, apakah semua orang benar-benar memasuki satu ruang yang sama?
Ataukah kesadaran manusia memiliki cara yang serupa ketika berada di antara kondisi sadar dan tidak sadar? Bahkan ArtCanum belum memiliki jawaban untuk itu.
Pengalaman tersebut lebih tepat disimpan sebagai pola yang perlu diamati daripada dijadikan kesimpulan final.
Gelembung-Gelembung Pribadi dalam Alam Antara
Ada kemungkinan bahwa Alam Wang Wung sangat luas, tetapi pengalaman setiap orang tidak otomatis saling terhubung.
Bayangkan ruang yang begitu besar dengan banyak gelembung kecil di dalamnya. Setiap perjalanan astral mungkin berlangsung dalam satu gelembung pengalaman pribadi, sehingga seseorang dapat melihat tempat, sosok, atau kejadian tertentu tanpa harus bersinggungan dengan pengalaman orang lain.
Konsep ini dapat disebut sebagai gelembung kesadaran.
Seseorang mungkin melihat sebuah desa tua dalam perjalanan astralnya, sementara orang lain melihat jalan modern, rumah kosong, atau tempat yang sama sekali berbeda. Keduanya mungkin berada dalam wilayah yang sama, tetapi pengalaman masing-masing dibentuk oleh kesadaran yang membawanya.
Karena itu, dua orang dapat mengatakan pernah memasuki Alam Antara tanpa harus melihat tempat yang sama, mungkin ruangnya satu, tetapi jendela yang digunakan untuk melihatnya berbeda.
Siapa yang Menciptakan Alam Antara?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan justru semakin sulit dijawab.
Sejak kecil kita sudah terbiasa dengan pemahaman bahwa alam manusia dan alam gaib, beserta segala isinya, memiliki pencipta. Lalu jika memang ada sebuah wilayah yang berada di antara keduanya, siapakah yang menciptakan Alam Antara?
Apakah manusia?
Apakah makhluk gaib?
Apakah keduanya?
Atau apakah Alam Wang Wung memang tidak diciptakan oleh siapa pun, melainkan muncul sebagai konsekuensi dari adanya dua dunia yang saling beririsan?
ArtCanum tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut secara gegabah, justru pertanyaan itu mungkin menjadi bagian paling menarik dari konsep ini.
Setiap tindakan memiliki konsekuensi, setiap cahaya menghadirkan bayangan, dan setiap bayangan membutuhkan sesuatu yang menghalangi cahaya agar keberadaannya dapat terlihat.
Di antara cahaya dan bayangan selalu ada sebuah objek, ada sesuatu yang berdiri di tengah dan mungkin Alam Antara adalah sesuatu yang berada di sana.
Bukan sepenuhnya cahaya, tetapi juga bukan sepenuhnya gelap. Bukan sepenuhnya manusia, tetapi juga bukan sepenuhnya gaib.
Seperti gambar pensil yang sudah dihapus, secara kasat mata mungkin sudah tidak ada, tetapi ketika kertas dibalik dan cahaya jatuh dari sudut tertentu, guratannya masih dapat terlihat.
Bahkan ketika tidak terlihat, bekasnya tetap ada, dan mungkin begitu pula Alam Wang Wung.
Sebuah ruang yang sangat dekat dengan kesadaran manusia, tetapi justru sulit disadari karena kita sejak awal terbiasa melihat dunia secara hitam putih, nyata atau gaib, ada atau tidak ada, muncul atau hilang.
Padahal di antara semua itu, mungkin terdapat sebuah wilayah yang tidak meminta untuk dipercaya, hanya menunggu untuk diamati.
Itulah Alam Antara, Alam Wang Wung.